“Hei pelayan, ambilkan aku segelas Beer!”
“Baik, tuan!” jawab wanita itu dengan suara riangnya. Sambil membawa beberapa pesanan para pelanggan, ia meliuk menyusuri setiap jengkal kursi sambil meletakkan minuman-minuman yang diletakkan di atas nampan yang dibawanya. Tubuhnya bak belut bergoyang, langsing nan lincah saat beranjak dari meja ke meja, menawarkan sekaligus mengantar permintaan para pria. Ia menjadi sorotan semua pria di kota itu semenjak menjadi pelayan serbabisa di kedai itu.
Ia jadi primadona kaum adam.
“Kau terlihat sangat cantik, Lorent!”
“Apapun gayamu, kau tetap indah di mataku.”
“Manis, segelas cintamu membuatku mabuk kepayang.”
“Terima kasih.” Begitulah kata-kata yang terpatri dalam mulutnya, dan langsung keluar begitu seseorang memujinya.
Mengumbar senyuman. Pribadi yang hangat. Disayangi semua pelanggan. Diimpikan setiap pemburu asmara. Dambaan insan merana. Penghibur dikala duka. Pembawa kebahagiaan dunia.
Namun, dibenci.... oleh dirinya sendiri...
Februari 04, 2012
Januari 10, 2012
Pengakuanku
Minggu,
08 Januari 2012
“Dear diary”? Hmm, untuk yang satu itu
aku kurang setuju. Lagipula aku ini laki-laki, apa kata dunia kalau aku
mengucapkan kalimat mengerikan itu?
Jadi bagian itu akan kulewati!
Aku memulai cerita ini dengan prakata
membosankan. Ya, selalu memulai segalanya melalui pendekatan bertele-tele. Tapi
percayalah, kisahku ini seratus persen benar adanya. Pengalaman ini didasari
atas kebodohanku akan hal yang kuanggap baru dan mengasyikkan.
Desember 23, 2011
The Lion Knight
Kemanapun
engkau, aku selalu besertamu
Mendampingimu
kala cahaya meredup
Tapi
janganlah bersuka akan kehadiranku
Sebab
akulah hitam dalam putihmu
Melangkah,
dan berlari
Kemanapun
engkau, bayangku membelenggumu
Tangan
ini akan merenggut pesonamu
Melenyapkan
kebahagiaanmu
Akulah
hitam dalam putihmu
Deru
nafasmu menyenangkanku
Rohmu
memuaskanku
Menarikmu
dalam tangan kegelapan
Akulah
takdirmu, takdir kelammu
Desember 12, 2011
Whiterless Rose
Morgand Town, Eastern Sieghard
Wednesday, October 12th C146
Seperti biasa, sore menjelang malam
adalah suasana paling nyaman untuk melepas lelah setelah bekerja seharian.
Langit jingga menyeruak di horizon barat
menyebar hingga horizon timur. Perlahan angin berhembus menguris panasnya
udara dari pancaran mentari siang, sejuk nan sepoi. Sepanjang jalan hanya
terlihat lalu lalang pejalan kaki yang hendak kembali ke rumah, atau sekadar
mondar – mandir menghabiskan akhir hari dengan melakukan gerakan ringan sebagai
upaya merelaksasikan otak. Tapi, benarkah dengan itu otak bisa jernih seperti
semula? Jawabannya ada pada masing – masing pandangan orang.
Meski begitu, Ada satu tempat yang
ramai dikunjungi banyak pelanggan. Ya, pelanggan. Sebab tempat itu mirip
restoran, semacam gedung dengan dekorasi seperti ruang makan ala rumah tinggal.
Namun tempat itu bukanlah restoran.
Desember 11, 2011
Ector - Vengeance
Ctarr, ctarr, ctarr!
Suara – suara setan itu terus berdengung di telingaku. Tak henti – hentinya pelatih mencambuk kakiku agar aku mau bergerak. Bukan, menari lebih tepatnya. Namun sayangnya tubuhku kepayahan dan seluruh ototku menagih untuk berhenti. Acap kali aku tertahan hanya sekedar melepas penat sesaat, cambuk berduri tajam langsung diarahkan kepadaku. Aku terus menari, menari, menari, menari...... hanya agar manusia keji itu mendapat pujian tinggi dari para penonton. Dan aku, sebagai bahan leluconnya.
Tunggu dulu, tadi aku bilang pelatih? Itu terlalu sopan. Harusnya tadi kubilang ‘Makhluk buas berkulit manusia’. Ya, lebih menakutkan dari monster manapun. Aku berani taruhan semua makhluk beradab sama sepertinya. Sebab mereka menertawakanku, bukan bersimpati layaknya ciptaan Tuhan yang lain. Mereka lebih senang melihatku menderita daripada menolongku yang semakin rapuh ini. Aku ini sahabat mereka, seharusnya mereka memperlakukanku seperti teman sejawat. Hanya karena mereka memiliki intelegensi di atasku, bukan berarti mereka semena – mena memaksaku bekerja demi mengganjal perut kosong mereka. Ini tidak adil, aku benci manusia!
Langganan:
Postingan (Atom)
